110. BOUNALITA
Akh, cinta...
andai mustahil bukan milikku
biarlah sekadar menjadi kenangan
yang terukir indah di kanvas jiwaku
Bounalita...
suatu nama yang amat kuat
mengakar dan bertumbuh di setiap
sendi sendi dan mengalir dalam darah
Ku-cari cari...
timur dan barat sudah ku-arungi
selatan dan utara pun telah ku-lipat
wahai delapan penjuru angin kabarilah
Berdiri megah...
itulah Gunung Sancang yang gemilang
si Kembar yang berhadap hadapan
dan entah apa yang dia bicarakan
Ada apa di aku...
kok bisa jadi ngarol ngidul begini
manalah mungkin tapi apa sih susahnya
bila TUHAN sudah menghendaki
Guruku cantik sekali...
mau makan datang bayang-nya
mau tidur selalu ada bayang-nya
tatkala menulis setia hadir bayang-nya
hmm, inikah namanya jatuh cinta?
Berkata Eyang Mandraguna:
"Cucu, lupakanlah yang kau lihat
kau pasti tak percaya padaku bahwa
wanita itu Ibu kandung-mu sendiri."
Al kisah yang ber-ulang...
dua puluh tahun yang silam pendekar
Rajawali Sakti telah membunuh Ayah-mu
dan Ibumu di boyong dengan cara paksa
usiamu se-kira kira baru lima bulan
Raib tiada rimba...
sang Ibu menghilang bagai di telan bumi
tak pernah menyangka Putra-nya masih ada:
"Bukankah Dia di lemparkan ke dasar
jurang?", batin-nya.@
Penulis: Amirullah, Lainungan,
Sidenreng Rappang,
Sulawesi Selatan.
Komentar
Posting Komentar