105. BIDADARI DALAM PASUNGAN

Menangis...
dan terus menangis
kabar sang kekasih telah karam
di telan tak sisa oleh amukan
gelombang laut samudera
di pantai selatan

Duh, cinta...
dia-lah yang bermain api
lalu mengapa aku yang terbakar
lembayung senja-pun terseret buram
bermurung durja dalam
kegelisahan-ku?

Saban hari...
dia berdiri di ujung dermaga
rindu dan menanti sang belahan jiwa :
"Kanda pasti pulang," bisik-nya

Al hikayat cinta...
dari dulu hingga kekinian
tak pernah bosan-bosannya selalu
mengincar dan menerkam
korban-korban-nya

Sampai kapan...
menunggu yang tiada
sedangkan aku ada sendiri di sini
dan apakah belum sampai di telinga
bahwa cinta-ku yang terbaik?

Hendak di buang...
tentu sangat di sayangkan
laksana bunga yang sedang layu
dan di tanam-pun takkan
bisa tumbuh

Suatu reportase...
yang sungguh menyedihkan hati
Bidadari dalam pasungan pesakitan
sudah sejak lima tahun yang lalu

Aku akan datang...
tidak ada selain aku dan hanya aku
yang paling mengerti tentang hal
bahasa kalbu yang kering
pasti tumbuh

Cinta tak biasa...
cinta-nya memang luar biasa dan
hanya cinta-lah obat segala penyakit :

"Kanda, cinta nyaris membunuh-ku,"
sambut-nya padaku ber- derai air mata
"Dinda, karena cintamu-lah hingga
aku bisa hadir di samping-mu".

oleh: Amirullah, Lainungan,
          Sidenreng Rappang,
          Sulawesi Selatan,
          INDONESIA.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

8. AKSARA CINTA

152. SURAT CINTA PUAN KYAI ( 2 )

156. SYAKARA ENTREPRENEUR